Shadow Word generated at Pimp-My-Profile.com

Wednesday, October 04, 2006


Read more!

Monday, September 04, 2006


IZINKAN SAYA BERBAGI
Kamis, 10 Maret 05 - oleh : admin

Muhammad Al Haris
(Juara II Remaja Berprestasi Annida 2002, tinggal di Banda Aceh)

Sobat Nida, pernah menonton film The Day After Tomorrow? Persis seperti itulah yang saya alami tanggal 26 Desember 2004, ketika gempa dan gelombang tsunami menghancurkan Aceh dalam tempo kurang dari satu jam. Rumah saya hanya berjarak 50 meter dari tepi pantai. Bisa dibayangkan ketika tsunami menerjang. Lima belas menit setelah gempa, gelombang hitam bergemuruh membuat orang-orang berlarian menyelamatkan diri, termasuk saya, ibu, dan tiga orang adik. Ibu baru saja selesai shalat dhuha dan masih mengenakan mukena ketika berlari.

Sedangkan ayah sedang ke kota.
Benar-benar pemandangan yang luar biasa, Sobat Nida. Kapal-kapal berlayar di atas rumah-rumah penduduk, menabrak orang-orang yang sedang berlarian, menghantam mobil, rumah, toko, kantor, sekolah dan apa saja yang ada di daratan! Tanpa saya sadari, saya dan adik saya yang berumur 10 tahun juga terhempas oleh gelombang yang tinggi dan hitam.



Di dalam gelombang semuanya terasa gelap, air laut tsunami yang hitam pekat dan beraroma bensin bercampur tanah tidak memberikan cahaya yang cukup untuk melihat benda dan orang di sekitar kita. Selain itu, kayu, mobil serta benda-benda lainnya terus menghantam tubuh ini sehingga lemah tak berdaya. Saya hanya dapat berdoa, “Ya Allah, sekiranya hidup hamba-Mu ini masih bermanfaat bagi agama-Mu, maka selamatkanlah hamba dari gelombang ini. Namun jika hari ini merupakan ajalku maka matikan aku di dalam iman.” Mulut saya terus berdzikir, karena saya yakin dan percaya hanya mukjizat Allah-lah yang bisa menyelamatkan diri ini dari gelombang maha dahsyat tersebut.

Pertolongan Allah pun datang. Saya dan adik yang paling kecil diselamatkan oleh seorang bapak dari sebuah rumah berlantai dua. Kaki adik saya tertembus kayu. Luka-luka sekujur tubuh kami. Di sana kami berlindung sambil memperhatikan mayat-mayat yang bergelimpangan. Ibu dan dua adik saya yang lain entah di mana.
Sobat Nida, izinkan saya berbagi tentang hikmah yang saya dapatkan dari tragedi maha dahsyat ini.

Ketika saya berlari meninggalkan rumah dan kendaraan yang tidak terkunci guna menyelamatkan diri, terlintas di pikiran saya, ternyata semua keduniawian yang selama ini kita kumpulkan--rumah, mobil, sepeda motor, perabot, uang, pangkat, jabatan dan lainnya--sama sekali tidak dapat menolong kita dan tidak berguna lagi disaat-saat seperti itu. Maka alangkah ruginya saya jika kesempatan hidup yang telah diberi Allah hanya diisi dengan kesibukan mengejar duniawi.

Hikmah ini semakin mendalam merasuk ke dalam jiwa saya saat melihat tempat tinggal yang telah rata dengan tanah.

Begitu juga saat saya melihat dan mengangkat mayat-mayat yang telah membusuk, terlintas di pikiran saya sebuah pertanyaan: Apa sih yang mau saya sombongkan di dunia ini? Toh, pada akhirnya saya juga akan menjadi seonggok mayat yang tidak berdaya atau bahkan membusuk. Kehilangan adik kandung, 40 orang saudara dekat, dan khususnya seorang ibunda yang paling saya cintai yang sampai saat ini belum saya ketahui nasibnya, hidup atau mati? Membuat saya semakin merasakan arti kehadiran seorang ibu. So, kepada sobat Nida yang sampai saat ini masih memiliki orang tua terutama ibu, berbaktilah kepada beliau, bahagiakan hatinya, jangan pernah terlupa bahwa jannah terletak di bawah telapak kaki ibu.

Masih banyak hikmah-hikmah lain yang bisa saya petik dari kejadian ini. Yang pasti tsunami memang sebuah tragedi besar sebagai peringatan Allah kepada hamba-Nya. Terpancar sebuah harapan dalam hati, agar tragedi ini menjadi momentum bagi masyarakat Aceh untuk kembali berbenah diri, menyingsingkan lengan baju untuk kembali membangun Aceh baru. Rakyat Aceh tidak boleh larut dalam kedukaan karena itu tidak akan menyelesaikan keadaan. Marilah kita bangun kembali Aceh yang bermartabat, seperti kejayaan Aceh di zaman Sultan Iskandar Muda. Dimana syariat Islam ditegakkan secara kaaffah, wanita muslim menutup aurat dengan sempurna, dan ekonomi masyarakat jauh dari praktek riba.

Marilah kita jadikan musibah ini sebagai bahan renungan bagi kita semua, untuk memperbaiki diri dan bangsa ini yang sudah sangat carut marut moralnya. Jangan harap bangsa ini akan maju kalau akhlak dan moral tidak kita perbaiki. Jika dengan tragedi gempa tsunami di Aceh dan Sumut ini tidak juga mampu menyadarkan penduduk di negeri ini agar menjadi semakin dekat dengan-Nya, niscaya akan datang cobaan dan bala yang lebih besar di negeri ini. Na’uzubillahi mindzalik!
Akhirnya, saya sebagai pribadi mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada sahabat di Indonesia dan seluruh dunia yang telah membantu moril, materil, dan doa bagi kami masyarakat Aceh. Kami tahu bahwa bantuan itu semua; mulai dari seteguk air sampai doa di sepertiga malam yang sahabat-sahabat ucapkan, insya Allah akan membantu kami untuk kembali bangkit dan tersenyum kembali.



Lelaki Sejati
Kamis, 10 Maret 05 - oleh : admin

Kata-kata Ibu tak banyak tertumpah keluar dari bibir tapi begitu terucap bagai menohok tepat di ulu hati. Bukan. Bukan hanya menohok tapi bahkan merajang. Nada pahit menggeletar parau dari suaranya bila ia tak lagi dapat berharap dari salah seorang anaknya.

“Apa tidak ada laki-laki lagi di keluarga kita?”
Itu adalah ungkapan bila Ibu tak dapat mengharap sama sekali dari salah seorang anak lelakinya. Ibu adalah seorang yang perkasa. Menjadi kepala keluarga saat Ayah meninggalkan kami begitu saja di tengah ladang karet Kisaran, entah untuk cari kerja atau mencari istri lagi. Ibu menyeret-nyeret kami dari Pematangisantar, Tebingtinggi, Lubuk Pakam, hingga terdampar di tepi kota Medan.

Menjadi buruh masak di perkebunan kelapa sawit milik dua pengusaha besar asal Malaysia dan pribumi.
“Tidakkah kau mau cari uang barang sikit, Di?”
Ibu mengungkapkan keprihatinan saat Bang Edi mulai mengenal rokok dan nongkrong-nongkrong di ujung jalan bersama para pemuda.
“Di mana aku cari uang, Mak,” keluh Bang Edi muram. “Apa bisa aku kerja tanpa ijazah sama sekali?”

Ibu terdiam. Sepanjang hari Bang Edi luntang-lantung, sesekali membawa uang yang Ibu tahu dari hasil mengompas orang.
Ibu tak menangis ketika Bang Rizal dihajar segerombolan pemuda lantaran menghamili anak gadis Pak Rustam, seorang yang cukup terpandang di daerah Sei Belutu. Sekalipun Bang Rizal mengaku mereka sama-sama suka, tentu pihak Pak Rustam sama sekali tidak terima.

“Kamu harus nikahi dia, Jal,” Ibu menegaskan.
Aku mengantarkan Ibu melamar Kak Erni. Akan tetap terpatri dalam ingatan betapa dahsyat penghinaan terlontar. Seharusnya mereka berterima kasih atas pertanggung jawaban Bang Rizal, bukannya menuduh kami gila materi hingga berani datang tak menyembunyikan diri.

“Bertanggung jawab atau cari tempat makan, heh?” hardik Bu Rustam.
Aku masih terlalu kecil untuk tahu kemelut itu. Hanya kudapati Ibu menangis meraung saat sujud sembahyang malam di kamar belakang. Aku ikut-ikutan menangis lalu memeluk kakinya agar beliau tidak tergetar hebat lagi seperti itu.

“Jadi laki-laki harus berani dan tahan banting, Yus,” Ibu mengelus rambutku. Mata dan pipinya demikian jernih dalam basuhan air mata. “Dua abangmu bukan laki-laki.”

“Mereka perempuan, Mak?”
“Tidak juga. Terlahir laki-laki tapi sama sekali tidak punya jiwa pahlawan yang mau bertahan dan berkorban. Ibulah yang laki-laki.”
Aku percaya itu.

***
Di situlah aku. Terdampar di Sambe, Simeulue tengah, saat lulus menjadi pegawai pemda usai tamat SMA.

November 2002.
Bumi berderak. Tanah berguncang. Angin berputar menghempas. Pohon-pohon tak merindangi sosok yang berlarian di bawah namun malah mencekik mereka. Rumah bukan lagi tempat tinggal yang sekejap beralih fungsi menjadi kuburan. Aku limbung. Aku baru saja memetik buah durian yang akan kuserahkan kepada warga kampung sebagai perayaan meugang menyambut datangnya bulan puasa. Suka cita berlalu berganti derita. Sempat kupikir jeritan anak-anak adalah kegirangan mendengar rebana mulai bertabuh. Tapi aku salah. Itu adalah jerit memilukan orang-orang yang berusaha mempertahankan napas mereka.

Aku lari. Sempoyongan. Terbentur-bentur. Kulindungi kepala menghindari reruntuhan rumah dan balok kayu. Satu yang melintas begitu cepat di dalam benak, aku harus menyelamatkan diri.

***

“Epidural haemotoma pada daerah paretal kiri,” jelas dokter di rumah sakit Pirngadi, Medan.
Aku tak tahu apa itu. Sejujurnya, aku tak peduli. Kami baru dievakuasi pada hari kelima karena jalur Simeulue-Banda Aceh terputus. Pelabuhan di Sinabang, Simeulue rusak berat, sebagian jalan Meulaboh-Banda Aceh retak dan longsor. Ibu setia menemaniku yang menderita patah tulang paha dan telapak kaki sekaligus beliau tak ragu ikut mengurus Amruddin, bocah dua belas tahun yang menderita perdarahan di kepala kirinya. Amru terbaring bersebelahan dengan ranjangku. Aku tak suka Ibu memperhatikannya sementara aku sendiri tengah kesusahan.

“Kenapa kamu, Yus?” gumam Ibu tajam. “Tak terpikir dalam otakmu siapa ayah dan ibu anak ini?”
Aku meringis. Sekedar buang air kecil saja aku harus dibantu, apalagi….

“Bukan begitu, Mak,” sanggahku. “Aku juga prihatin melihatnya. Tapi kita bisa apa? Biarkan pemda atau pemerintah pusat yang menolongnya.”
“Jahat betul hatimu,” tuduh Ibu menghujam. “Kau seperti bapakmu. Biarkan orang lain yang menanggung, biarkan aku terbebas. Itu juga yang kamu lakukan saat terjadi gempa di Simeulue? Biarkan yang lain asalkan kau selamat?”

Kepalaku terlalu pening untuk berdebat. Aku hanya tak setuju Ibu menambahi beban hidup kami, beban hidupku, dengan seorang anak yang diperkirakan cacat mental karena kerusakan otak parah akibat benturan hebat.

***
Aku tak pernah menyukai Amru. Bagiku keberadaan Bang Edi dan Bang Rizal yang seperti benalu masih lebih baik daripada pemuda cacat sepertinya. Sekalipun Ibu dan adik bungsuku, Ali, senang berkawan dengan Amru. Tentu saja Ali suka. Seperti kembarannya, pikirku sengit, walaupun jarak usia Ali dan Amru jauh. Ali hanya dua tahun di bawahku sementara Amru masih bocah. Sesekali memang lidah cedal Amru dan matanya yang berputar-putar terasa lucu, di lain waktu aku ingin sekali menggencetnya karena ia selalu mengotori sarung dan sajadahku dengan pipisnya.

“Sabar!” Ibu mengingatkan. “Dia itu masih seperti anak kecil!”
Ibu masih menjadi juru masak PTP. Sekarang beliau tidak bekerja sendiri tapi memiliki dua asisten. Rupanya Pak Haji melihat ibu yang mulai tua harus dibantu, sementara keterampilannya memasak tak dapat diwariskan begitu saja. Orang enggan meninggalkan meja makan hingga selesai ketika mencicipi gule kepala kakap, sambal cabe hijau, dan daun ubi rebus masakan Ibu.

Peristiwa Simeulue 2002 berlalu bagai angin.
Nangroe Aceh Darussalam rawan gempa. Lalu apa bedanya dengan Tokyo dan Bali yang juga bernasib serupa?

“Musibah di mana-mana ada, Yus,” nasihat Ibu. “Maut selalu mengintai kan? Tak peduli kau sedang tidur di atas ranjang. Makanya ibadahmu tuh diperkental. Kadang kau mirip Bang Edi dan Bang Ijal. Kau lebih berhasil, tapi ibadahmu sama saja. Tengoklah macam adikmu Ali sama Amru.”

Aku tersenyum masam.
Peristiwa dua tahun lalu menyebabkan aku tak mau kembali ke Simeulue. Ibu pun tak memaksaku kembali ke sana. Tinggal jauh di pulau di seberang lautan sering membuatku merasa sepi sendiri. Ingin kuajak Ibu saat aku bekerja di sana namun beliau merasa masih bertanggung jawab atas kelangsungan hidup Bang Edi, Bang Rizal, Ali juga Amru. Terkadang aku sendiri tak habis pikir dari mana Ibu memperoleh rezeki untuk menghidupi semua anak-anak lelakinya termasuk Amru. Bahkan bagi Ibu sendiri, Amru sekarang adalah bagian dari hidupnya. Atas bencana yang terjadi di Simeulue beberapa waktu lalu, aku justru mendapat kemudahan untuk mutasi kerja ke daerah yang lebih ‘aman’ seperti Medan. Musibah itu justru membawa berkah bagi diriku.

***

Ali sekarang sudah dewasa. Tidak sepertiku yang sejak awal berambisi menjadi pegawai, Ali lebih ulet menjadi pedagang. Pengalaman hidup kami yang tertindas di perkebunan justru membuatnya jeli melihat pasaran.

Ia suka berdagang apapun mulai dari hasil bumi hingga kerajinan. Dari Aceh ia biasa membawa bertruk-truk kelapa, rambutan atau cengkeh. Setiba di sini ia akan mengangkut balik sunkist dan jeruk Medan yang terkenal. Di samping membawa hasil bumi, ia kerap membawa kerudung bordiran Aceh yang halus dan indah. Atau tas rajutan dan pernak pernik bersulamkan benang emas dan perak. Siapa lagi asistennya kalau bukan Amru.

“Apa kau tak ingin cari pembantu yang lebih pintar, Li?”
Ali tersenyum.
“Dia itu polos dan bersih, Bang,” sahutnya. “Orang macam itu malah sering mengingatkan aku sholat bila adzan tiba, mengingatkan aku ‘tuk sedekah saat orang kesusahan.”

Aku hanya melirik sekilas pada Amru yang tak pernah jauh dari Ali, wajahnya yang polos dengan mulut selalu tertawa hingga liur kadang berceceran.

“Kapan Abang menengok kiosku di Banda Aceh?” ajaknya semangat. “Aku buka kios buah di Pasar Atjeh. Mirip kios buahku di Pajak Pringgan.”
Aku tersenyum. Tentu aku ingin mengunjunginya bila liburan tiba nanti. Cutiku tahun ini belum diambil lantaran tiap Lebaran aku memang tidak pergi ke mana-mana. Ibu sudah lama ingin pergi ke Aceh, kudengar Ali mengontrak sebuah rumah di daerah Ulee Lheue sebagai tempat peristirahatan bila ia sedang berada di Aceh.
“Kita ke sana ya, Yus,” Ibu memintaku mengantar beliau.

Kadang aku berpikir Ibu lebih menyayangi adik bungsuku karena ia lebih segala-galanya daripada aku. Memang ia hanya tamat SMA sepertiku, tapi lahan dagangnya mulai membuahkan hasil.

Pendapatannya sebulan jauh di atas penghasilanku. Bahkan Ali sudah berani mendaftarkan Ibu untuk naik haji tahun depan.
“Kau tuh punya prasangka buruk nian,” tegur Ibu yang melihatku sering menggerutu menghadapi Ali dan Amru. “Mereka berdua baik ibadahnya, baik perangainya. Pantaslah Tuhan membukakan pintu rezeki-Nya. Kaupun bisa begitu kalau mau sikit berubah. Nyatanya, bertahun hidup bersama Amru belum membuatmu makin dewasa bersikap.”

Aku hanya diam. Selalu begitu. Kata-kata Ibu menohok jantungku. Memang terkadang kupikir, kenapa rezeki yang diraih Ali lebih mudah daripada yang diperoleh tiga abangnya.

“Dia tuh benar-benar laki-laki, Yus,” Ibu tersenyum. Telingaku memerah. “Dia berani menanggung resiko. Memangnya memelihara Amru nggak ada dukanya? Waktu Ali belum berhasil dagangannya, dia sering mengalah makan demi Amru.”

Begitulah. Sekalipun batinku sering gondok melihat keberhasilan Ali, bagaimanapun ia tetap adik yang kusayangi. Ia lebih muda tapi lebih dewasa. Sewaktu masih kanak-kanak, aku lebih cengeng dibanding dirinya. Aku sering menangis bila ditinggal Ibu lembur memasak hingga larut saat perkebunan menghadapi kerja ekstra. Bang Edi dan Bang Ijal lebih suka membentakku untuk tutup mulut. Sebaliknya, Ali datang mendekap, mengatakan bahwa aku tak perlu sedih karena ia akan selalu menemani. Ali adalah saudaraku yang paling dekat, tapi sejak pindah ke Simeulue apalagi dengan hadirnya Amru, hubungan kami merenggang.

***

Desember 2004.
Aku menikmati perjalanan ini. Ibu terlihat begitu riang selama hari-harinya di Aceh mengunjungi kios buah Ali dan Amru. Batinku sendiri tersentuh melihat raut wajah bahagianya. Belasan, bahkan berpuluh tahun beliau harus berjuang tanpa sempat tersenyum. Tak pernah kudengar bibirnya mengeluhkan kepergian Ayah.

Bagiku sendiri, Ibu sudah cukup mewakili sosok kelembutan perempuan dan keperkasaan laki-laki. Sebagai bentuk pelayanan Ali pada kedatanganku dan Ibu, ia mengajak kami mengunjungi pantai indah Ulee Lheue. Bang Edi dan Bang Rizal tak ikut sementara Amru tampak girang tak kepalang. Berulang-ulang ia bertepuk tangan bergumam entah menyanyi atau berkumur, liurnya menetes satu-satu. Ibu melapnya dengan sabar, membuat kepalaku segera melengos. Suasana hatiku sedang baik maka aku tak berhasrat mendamprat Amru.
Aku tengah menikmati matahari, landai pantai berair jernih dan buih putih di kejauhan. Tawa riang anak-anak melempar piring terbang dan membangun istana pasir, secara aneh menghantarkan ingatanku pada Simeulue dua tahun lalu. Jerit lirih anak-anak terkadang membingungkan antara rasa gembira atau sakit. Mataku menyapu kaki langit yang bersih.

Matahari hangat sedikit tersaput awan. Cakrawala di batas pandang menampakkan buih tipis berkejaran. Lalu aku oleng sedikit saat mengambil piring terbang yang jatuh mengenai lutut. Seorang gadis kecil berambut ikal malu-malu meminta kembali mainannya. Barangkali aku cepat lapar oleh perjalanan wisata ini, otakku menjawab keheranan. Namun detak jantungku tak dapat berbohong. Kurasakan denyut normalnya berlipat seratus kali menggenjot darah. Aku tertegun menatap tepi pantai yang airnya menyusut tiba-tiba ke arah tengah. Kupikir mataku terkelabui fatamorgana. Setiap orang mematung seperti diriku selama beberapa waktu saat gerakan pada tanah yang dipijak mulai memperdengarkan suara gemuruh. Awalnya pikiranku bekerja bahwa ini adalah peristiwa yang sama seperti dua tahun lalu di Simeulue. Menjauhi bangunan, daerah perapian, pepohonan besar, adalah langkah teraman ketika gempa tiba-tiba merangsek.

Tapi leherku membeton seketika. Air yang menyusut meresap ke tanah pasir tiba-tiba berbalik menampakkan buih bergulung di kejauhan. Itu bukan gelombang ombak yang disukai peselancar. Itu adalah buih ombak yang membuat beribu orang di Ulee Lheue mulai bergerak mendaki tepian pantai.

“Air….!! Lariiiii….!!”
Otak dan perasaanku belum terjaga namun kakiku sudah lebih dulu bekerja. Aku berlari sekuat tenaga menuju mobil yang terparkir cukup jauh. Sembari terengah dengan napas terputus kurogoh kunci di saku celana. Aku menoleh ke belakang, Ali berlari sekuat tenaga menarik lengan Ibu dan Amru yang sama takut dan paniknya seperti diriku. Jarak mobil beberapa tahap lagi dari langkah kaki. Harapan dan keputusasaan bergolak memenuhi tiap saluran sel darahku, beserta doa yang entah kenapa mulai muncul satu-satu di ujung lidah.

Harapanku merekah selapis tipis, saat secepat mungkin kumasukkan kunci pintu kemudi lalu memutarnya. Aku menoleh sekali lagi. Keheranan sedetik merajai, mencari di mana Ali membawa Ibu dan Amru menyelamatkan diri. Saat itulah aku mulai melihat bahwa buih ombak selarik yang tadi sejauh pandangan mata, sekarang berada tepat di belakangku. Sekarang ombak itu tidak hanya setinggi ruas jari, tapi belasan meter menjulang menggulung di belakang punggung.

***

Tuhan.
Beri aku kesempatan sekali lagi. Aku bukan Kan’aan yang mendurhakai Nuh, nabi-Mu. Aku bukan laki-laki seperti yang diharapkan Ibu tapi aku sangat ingin selamat dari peristiwa ini. Tubuhku terhempas ke dasar lautan, bergasing membentur batuan karang dan kepala orang yang juga terseret. Perutku menggelembung, paru-paruku sebentar lagi pecah. Mataku mulai kehilangan daya penglihatan sementara lidahku tak mampu berdoa karena suapan air tak henti-henti menerjang kerongkongan. Detik selanjutnya satu dorongan kuat menyorong punggungku naik ke permukaan, membuat wajahku sejenak melihat matahari yang tetap tenang bersinar. Aku menggelegak memuntahkan air, luarbiasa perih dan nyeri merajam lubang hidung hingga duburku. Sepersekian detik cahaya matahari membuatku kembali berharap tapi gulungan ombak yang lain merangkulku menuju dasar samudera kembali. Aku meluncur tertelungkup menuju daratan pasir di bawah yang sedang bergeser untuk memantapkan lempengan kerak bumi. Tekanan air berton-ton menggodam tempurung kepala dan tulang punggung. Kurasakan butiran pasir menyemai di ujung jemari, pasir yang mengotori hidung dan masuk ke dalam kelopak mata. Anyir darah dan asin air laut bercampur aduk. Bumi menghamba pada kemarahan.

Sekalipun terpejam dapat kurasakan benturan berkali-kali pada benda lembut dan mengejang yang kuterka sama seperti diriku, manusia yang mulai menjemput ajal dan menghitung dosa. Ya Allah, betapa sengsaranya akhir semua ini. Akankah aku merasakan sakit hingga akhir nanti? Berapa lama sakaratul maut berjalan? Ya Rabbi, beri kesempatan aku sekali lagi setelah Simeulue dua tahun yang lalu untuk memperbaiki diri. Aku benar-benar akan menjadi sebenar laki-laki yang bertanggung jawab pada kehidupanku.

Air memusar membawaku ke suatu negeri tak bertuan. Negeri tanpa rasa, tanpa waktu, tanpa tempat. Sempat aku menduga nyawa sudah tercerabut dari raga ketika satu hantaman dahsyat membuat igaku seperti rontok satu-satu. Tanganku terulur tanpa arah. Rasa sakit seperti ini membuatku sedikit berpikir bahwa napasku masih di bumi. Suatu benda bergagang kokoh dengan serabut memanjang nyaris lewat dari pinggangku, untung jemariku yang sudah kaku menggenggam sekuat tenaga. Kalau aku harus mati, bisikku, aku mau mati seperti laki-laki yang sudah berjuang.

Kudekap erat batang yang ternyata sebentuk pohon kelapa. Meski aku sendiri tak yakin sampai kapan pohon ini tegak berdiri di tengah gelombang tsunami.
Pusaran ombak mulai mengendurkan cengkeraman.
Perlahan kesadaran memasuki wilayah sel otakku sedikit demi sedikit. Sekalipun gulungan ombak masih susul menyusul datang, gerakannya tidak segila tadi. Mataku berusaha terbuka meski luar biasa sakit. Tak kukendorkan sedikitpun pegangan sebab harapan untuk selamat masih sangat kecil. Lambungku tak mampu menanggung air, aku muntah-mutah tanpa kendali hingga nyaris terlepas dari pohon kelapa saat ombak besar menghantam kembali.

Kepalaku mencoba menoleh berkeliling. Beberapa kepala turun naik ke permukaan, onggokan manusia menggelepar berserak. Arus makin deras masuk menuju wilayah kota Banda Aceh. Kucari-cari sosok Ibu, Ali, dan Amru. Aku mulai menangis dan berteriak-teriak, sama seperti dahulu ketika masih kanak-kanak. Bedanya, sekarang tak lagi ada Ali yang mendekap menghiburku.

***

Kutemukan Amru terdampar di tepi aliran sungai yang dipenuhi onggokan kayu dan batu. Tsunami tak menyisakan bangunan permanen berdiri kecuali beberapa bangunan seperti Masjid Raya dan makan Sultan Malikussaleh. Tak menyisakan orang-orang yang masih dapat tertawa. Segalanya berubah hanya dalam hitungan menit. Aku menangis dan menangis lalu menangis lagi hingga lapar dan haus mengalahkan kepedihan. Amru masih hidup saat memeluk erat Ali dan Ibu yang sudah menggelembung tak bernyawa. Betapa aku membencinya, mengapa justru dia yang masih bertahan sementara orang yang kucintai pergi begitu saja? Aku menjauh meninggalkannya. Sekarang aku tak merasa perlu harus merawatnya. Pasti ada orang lain yang bertemu Amru lalu mengajaknya untuk menjalani hidup lebih baik.
Tapi aku bertemu dan bertemu lagi dengan Amru.
Saat evakuasi mayat, evakuasi korban, pembagian mie kardus dan makanan, pembagian pakaian dan jatah air. Ia selalu di sana, tampil lebih dulu dan tak latah berebut. Tentu saja, batinku sengit dan putus asa, orang tidak waras lebih kuat badannya. Tapi kalau tidak waras, kenapa Amru yang lebih dulu mengambil shaf berjamaah saat waktu shalat tiba? Kenapa ia masih ingat memberi makan orang lain saat kutahu perutnya sendiri tak berisi apapun kecuali angin?

Ia mendatangiku suatu siang yang terik, di tengah bau busuk mayat bergelimpangan dan sedikitnya pasokan air. Aku nyaris gila oleh semua ini.
“Ini, Bang,” ia berlari terseok menemuiku yang sudah bersiap menghindarinya. “Amru bawa air dan kaos.”
Untuk waktu ini kebencianku padanya benar-benar luluh lantak. Kupandang wajahnya yang polos berlumpur dengan rambut kemerahan berminyak dan bau.
“Buat kau sendiri?”
“Nantilah, tak apa.”
Aku termangu.
“Kenapa kau begini padaku?” aku berbisik.

“Kata Ibu, aku ni laki-laki. Harus jadi laki-laki dan mati nanti juga laki-laki. Laki-laki tuh berani dan bertanggung jawab.”
Aku menelan ludah kering. Sosoknya berlalu secepat angin. Aku terseok melangkah, memungut apa yang masih tersisa di antara sisa-sisa kehidupan. Sendok, gelas, uang logam, kumasukkan dalam buntalan kain. Kepalaku tertegak mendengar suara-suara teriakan komando. Di sana personil angkatan darat dan para sukarelawan bahu membahu. Amru berdiri di antara mereka. Tubuh kurusnya yang hanya beralaskan sandal jepit tipis mengingatkan aku pada sosok Ibu. Tanpa terasa airmataku menetes lagi. Cuma laki-laki perkasa yang dapat selamat dari badai kehidupan seberapapun besarnya. Bertahun lalu Amru selamat dari Simeulue, sekarangpun ia selamat lagi. Kupikir, semangatnyalah yang membuatnya tetap hidup hingga sekarang walau kenyataan begitu pahit tertelan. Aku memasukkan beberapa koin logam yang kutemui sepanjang jalan. Kupanggul ke bahu buntalan tak seberapa yang menjadi temanku. Setiap barang yang masih utuh menjadi harta sangat berharga bagi kami, para korban. Aku tak tahu apakah Bang Edi dan Bang Rizal akan bersusah payah menjemputku. Jarak Banda Aceh dan Medan yang selama ini teratur rapi, kini hancur tanpa kepastian kapan akan diperbaiki.

Aku belum dapat pulang mengingat alat angkut tidak tersedia, segala sarana sementara diperuntukkan bagi korban.
Sekali lagi aku memandang Amru yang tengah menggotong bongkahan kayu besar. Mataku nanar. Kelelakiannya membuat harga diriku terpasung. Rasa malu lebih menghimpit kini daripada rasa sakit. Betapa rendah aku yang selalu berpikir tentang diriku sendiri. Jepang berhasil membangun impian mereka kembali hanya dalam waktu beberapa bulan usai gempa yang menghancurkan.

Apakah manusia harus kalah oleh alam hingga alam yang mengusainya, bukan manusia itu sendiri? Kepedihanku tak terjabar, kelaparanku tak tergambar, rasa kehilangan ini tak tergantikan. Sesudah ini aku pasti melewati malam-malam dengan kenangan tentang gulungan air dan mayat-mayat bergelimpangan. Namun, dengan segala keberanian sebagai laki-laki, aku akan kembali membangun hidup dan menyusun kepingan harapan.

***

Read more!


Artimu....

Kalau kau tak bisa turuti permintaannya
Katakan langsung padanya...
Kalau kau ingin berada di sisinya
Kau harus tetap di sana walau itu berat...
Kalau ingin dia senyum...
Kau yang harus memulai terseyum
Bukan kamu yang tentukan
Apakah dia bahagia atau tidak...
Bahkan...
Dia sendiripun tak bisa tentukan
Tapi satu hal yang pasti...
Jika kau slalu berada di sisinya...
Menghiasi hari-harinya dengan senyuman
Menemaninya siang dan malam...
Walau hanya dengan nafas dan auramu
Aku rasa...
Ini cukup tuk membuatnya bahagia
Membuatnya merasa hidup tuk selamanya...



Read more!

berani ga gokil kaya gini?


di jalan seorang pengemudi mobil ditilang oleh seorang
polisi dan terjadilah percakapan seperti berikut:

pokis : slamat sore
driver: sore,ada apa ya pak?
pokis : Anda melanggar rambu2 lalu lintas,anda
menerobos lampu merah dgn kecepatan yg
melebihi batas..
driver: Ohh...trus bapa mau ngapain?saya lagi buru2
nih...
pokis : tolong tunjukan sim dan stnk anda?
driver: ga ada pak! ini kan mobil curian..
pokis : apa?!!?mobil curian???
driver: ...tapi tunggu dulu pak!perasaan saya liat
ada stnk di bagasi kotak peralatan di
belakang tempat saya manyimpan pistol
saya...
pokis : apa?!?! kamu bawa pistol ?!?!
driver: iya kotaknya ada di bagasi tapi mungkin
terhalangi oleh mayat yang mau saya
kuburkan sekarang...bapak lihat aja!
pokis : (dengan muka pucat lalu menelpon markas
melapor ke kapolda langsung,beberapa menit
kemudian datang serombongan polis mengepung
mobil tadi)
kapolda:(menghampiri pengemudi sambil bertanya)mana
sim dan stnk anda?
driver: nih pak(sambil menyerahkan sim &stnknya)
asli punya saya
kapolda: terheran2,..maaf saya dengar tadi ada laporan
bahwa anda membawa pistol dan mayat di
bagasi belakang mobil anda...
driver : apa?!?!....bohong itu pak,klo bapak tidak
percaya periksa aja bagasi saya!!
kapolda:(memeriksa bagasi dan ternyata tak ada apa2)
driver : tuh ga ada kan pak!memangnya siapa yg melapor
seperti itu pak?
kapolda: polisi itu!!
driver: apa?!?!? pasti dia juga berbohong dan
melaporkan bahwa saya menerobos lampu
merah?!?!
pokis : @#$#$#@$@#&*&**#@^!!!




ujian dan sogokan...

Seorang profesor memberikan tes akhir di kelasnya. Dia
membagikan tes itu dan menunggu hingga mereka selesai.
Ketika bel tanda berakhirnya ujian itu berbunyi,
kertas-kertas ujian dikumpulkan. Profesor itu melihat
ada 2 lembar uang Rp.50.000, yang dijepretkan dengan
selembar kertas ujian, dan bertuliskan :

SERIBU RUPIAH UNTUK SATU ANGKA.

Minggu depan, sang profesor mengembalikan kertas
ujian. Dan siswa yang menyogok itu mendapat kembalian,
Rp. 72.000,-


fhotografer udara..

Seorang fotografer mendapat tugas dari editornya untuk
mengambil gambar kebakaran hutan yang sedang terjadi
di Kalimantan.

Si fotografer segera berangkat ke lapangan terbang
Pondok Cabe mencari pesawat ringan Cessna yang disewa
kantornya. Doi pun segera naik ke sebuah
pesawat yang mesinnya sedang hidup.

"Woi, Mas! Buruan berangkat! Kita udah telat, nih!"
teriak si fotografer pada seorang laki-laki yang duduk
di kursi pilot.

"Ya....iya...sabar, Pak," kata laki-laki itu gugup.

Pesawat ringan itu kemudian mengudara dengan susah
payah. sesampainya di atas wilayah udara Kalimantan,
cuaca mendadak buruk dan penuh asap.

"Mas, turunin pesawatnya sedikit, bikin manuver, aku
mau ngambil gambar nih!" kata si fotografer.

"A...pa, Pak? Ngambil gambar??" tanya si lelaki.

"Iya. Aku ini fotografer udara!" .

"Apa???

Fotografer???

Jadi Bapak bukan instruktur terbang yang mau ngajarin
saya cara mendarat?!!!"


ayam homo...

Ceritanya tentang sebuah Peternakan Ayam ,disana ada
10 ayam betina dan 1 ayam jago (jantan) yang umurnya
sudah tua sekali.
Karena merasa ayam jago yang tua tadi sudah melewati
masa produktif-nya,
si pemilik peternakan bernama JONI memutuskan untuk
membeli 1 ayam jago lagi yang masih muda.
Tentu saja hal ini membuat si ayam jago tua menjadi
merasa tersaingi.

Si Tua: Eh, kamu jangan serakah ya. Ayam betinanya kan
ada 10, kamu boleh ambil yang 7 sedang aku yang 3
ekor.
Si Muda: Tidak bisa. Kamu kan sudah tua dan loyo,
pokoknya semua buat aku aja.
Si Tua: Kalau begitu mendingan kita lomba saja, siapa
yang menang boleh ambil semua ayam betina yang ada
disini.
Si Muda: Boleh saja!, mau lomba apa?
Si Tua: Lomba lari 100 m.
Si Muda: Ok, gak masalah
Si Tua: Tapi karena aku sudah tua, aku minta untuk
lari dulu didepanmu 25 m.
Si Muda: Boleh (dengan penuh keyakinan).

Lomba lari dimulai. Ayam jago tua lari dulu 25 meter
baru kemudian Ayam jago yang muda lari menyusul dengan
kecepatan dua kali lipat.
Eh, waktu hampir bisa menyusul ayam tua, si ayam jago
muda menggelepar dan mati seketika ditembak oleh
pemilik.
Sambil memungut ayam muda tadi, si BOMBOM sang pemilik
menggerutu...

"SIAL, INI AYAM JAGO-HOMO KE SEPULUH YANG AKU BELI
BULAN INI.
BUKANNYA MENGEJAR BETINA, MALAH MENGEJAR AYAM JAGO TUA
INI."

cewe tlanjang naik taksi..

Cewek telanjang nekat naik taksi, sopir taksi pun
melotot. Si cewek pun marah-marah.
"Gak pernah liat orang telanjang apa!!!"

Sopir taksipun menjawab,
"Aku cuma bingung kamu nanti ngeluarin duit dari
mana!!!"


3 pilot dan suku dayak

Pada perang dunia ke dua tiga pesawat Belanda jatuh di
Kalimantan. Ketiga pilot itupun akhirnya disandera
oleh warga setempat yang ternyata adalah orang Dayak.
Kebetulan orang2 dayak tersebut adalah 'head hunter'
dan sekaligus kanibal. Mengetahui hal tersebut, ketiga
pilot yg takut tersebut memohon agar tidak dibunuh.
Maka kepala suku setempat berkata,

"Kalo kamu semua masih mau hidup, kalian harus pergi
ke hutan dan bawa kembali SEPULUH buah yg jenisnya
sama. Tapi kalian hanya mendapatkan waktu tiga jam!"
Dengan sangat cepat ketiga pilot itupun akhirnya lari
ke hutan untuk mencari buah-buahan.

Setelah dua jam pilot pertama pun akhirnya datang
membawa sepuluh buah apel.
Kepala Suku: "Baik kamu telah membawa 10 buah apel.
Sekarang masukkan semua apel itu melalui lobang pantat
kamu satu persatu. Kalau kamu merintih, atau membuat
suara, kamu akan saya potong-potong jadi sate!!"

Dengan perlahan-lahan sang pilot mencoba memasukkan
apel pertama tanpa merintih. Dengan penuh perjuangan
dan ketahanan akhirnya apel pertama bisa dia masukkan.
Namun di apel yg ke dua ia tidak bisa menahan sakit
dari unusnya, dan seraya merintih. Dengan kejam sang
kepala suku memenggal kepala sang pilot. Maka naiklah
ia ke surga.

Pilot kedua datang membawa 10 buah lengkeng. Dan
kepala suku memeberikan instruksi yg sama kepada sang
pilot. Dalam hati, "Yah kalo lengkeng sih gampang!"

Dan memang betul. Satu lengkeng masuk, dua lengkeng,
tiga lengkeng... tapi pada saat ia memasukkan lengkeng
yg ke sepuluh sang kepala suku tiba-tiba memotong
kepalanya.

Saat pilot 2 naik ke surga ia bertemu dengan pilot 1.
Pilot 2: "Wah kamu mati juga ya?"
Pilot 1: "Iya aku bawa apel sih. Kan sakit! Ah, monyet
tu kepala suku, syaratnya berat banget! Trus kamu bawa
buah apa?"
Pilot 2: "Lengkeng."
Pilot 1: "Lengkeng? Itu kan gampang, kecil, gak sakit
lagi!"
Pilot 2: "Emang betul. Semua lengkeng hampir aku
masukkan semua ke dalam lobang pantat. Tapi ya itu,
tiba-tiba aku tertawa dan semua lengkeng yg aku sudah
masukkan keluar semua...."
Pilot 1: "Bego kamu! Kog ketawa?"
Pilot 2: "Habis pas mau masukin lengkeng no.10 aku
liat Pilot 3 bawa DUREN!"
Pilot 1: "??????????"



Read more!

MySpace
Layouts

Myspace Layouts by Pimp-My-Profile.com

adopt your own virtual pet!